Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Media Sosial Sebagai Penghubung Lembaga Negara dengan Masyarakat

Media sosial dipilih sebagai jembatan komunikasi antara lembaga pemerintahan dengan masyarakatnya, sebab kondisi masyarakat Indonesia saat ini sudah tidak asing lagi dengan media sosial. Dengan banyaknya pengguna media sosial di Indonesia merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mewujudkan komunikasi yang baik dengan publik guna tercapainya good gorvenance. Selaras dengan itu, Kantor Staf Presiden mengadakan diskusi tentang pengelolaan media sosial di lingkup Kementerian dan Lembaga (K/L). Acara ini diadakan di Auditorium Serbaguna Gedung III Kementerian Sekretariat Negara pada hari Kamis 19 Januari 2017.

Di dalam mengelola negara, pemerintah memiliki kewajiban mengelola komunikasi dengan publiknya. Hal ini menjadi sangat penting di pemerintahan modern, sebab pengelolaan komunikasi dengan publik adalah salah satu indikator kesuksesan pengelolaan pemerintah. Komunikasi yang dilakukan dengan publik merupakan bagian dari komunikasi politik pemerintah. Cita-cita pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang lebih baik atau dikenal sebagai good gorvenance. Guna mencapai good gorvenance, pemerintah membuat jembatan komunikasi antara pemerintah dengan publik melalui media sosial.

Acara diskusi pada hari itu dibuka oleh Alois Wisnuhardana, yang merupakan staf ahli dari kantor staf presiden. Dalam diskusi ini Alois membahas tentang tata kelola dan kebijakan media sosial di lingkup K/L. Setelah itu Alois memberikan waktu untuk narasumber pertama yaitu Ariani Djalal dari Kantor Staf Presiden. Ariani menjelaskan tentang pentingnya profesi humas dan sosail media di kementerian dan lembaga pemerintah. “Profesi PR (Public Relation) berevolusi jauh dengan tantangan yang kompleks, profesi PR adalah international job, untuk itu butuh kreativitas, kecepatan dan kepekaan yang tinggi di dalamnya”, jelas Ariani.

Pada kesempatan ini Ariani juga menjelaskan tentang revolusi media sosial. Ada dua belas karakteristi media di masa depan, yaitu : connected, data driven, pervasive, borderless, viral, personalized, participatory, immersive, interactive, mash-able, multiplatform dan creative. Ariani mengungkapkan bahwa 12 karakter ini harus dimiliki media di masa yang akan datang. Pada pengelolaan media sosial, admin media sosial harus tahu data yang akan disajikan dan kreatif dalam menyajikan informasi baik berupa artikel, infografis, foto, video maupun bentuk informasi lainnya.

Setelah penjelasan Ariani, acara dilanjutkan dengan paparan dari perwakilan Twitter Indonesia, Agung Yudha. Dalam sesi ini agung menjelaskan perkembangan Twitter di Indonesia, dari segi platform aplikasinya sampai dengan pengguna Twitter itu sendiri. Agung juga menjelaskan bagaimana penggunaan semua fasilitas yang ada di Twitter dengan maksimal. “Best Practice di Indonesia untuk lingkup K/L di Indonesia adalah TNI AU, akun yang dikelola TNI AU mempunyai 3 pilar utama dalam penggunaan Twitter, yaitu : Informative, Interactive dan Authentic”, tambah Agung.

Dalam penggunaan media sosial lebih baik jika adanya penjadwalan tema yang akan dibahas di tiap-tiap hari. Dengan begitu follower (sebutan audience dalam Twitter) akan tahu di hari apa dia akan senantiasa menunggu informasi yang menarik untuk publik. Di dalam Twitter juga terdapat fitur Analytics dimana pengelola akun dapat mengelola akun dengan optimal dengan memantau minat yang paling besar yang diikuti oleh audience.

Dilanjutkan dengan pembicara ketiga yang merupakan best practice penggunaan Twitter, Kolonel Agung Sasingkojati selaku koordinator admin media sosial di Dinas Penerangan TNI AU. Menurut lulusan Master of Strategic Studies di Air University ini memenangkan perang modern sangat tergantung pada kemampuan membentuk opini publik domestik dan internasional. Sasingkojati juga membagikan resep kesuksesan TNI AU dalam mengelola media sosial khususnya Twitter sebagai jembatan komunikasi dengan publik.

“Berbeda dengan akun-akun Twitter humas yang lain yang membatasi diri dalam dialog, sejak awal akun TNI AU (@_TNIAU) membuka diri berinteraksi dengan followers. Harapannya follower merasa “dimanusiakan” sehingga memberika citra baik bagi TNI AU dan banyak yang bersimpati dan berminat bergabung dengan TNI AU”, Jelas Sasingkojati. Pengelolaan akun media sosial membutuhkan kecakapan khusus, buka semata-mata kecerdasan intelegensi namun juga kecerdasan emosi yang dapat merespin sistuasi sulit dengan tetap menggunakan kata-kata yang santun. “Keberhasilan mengelola sebuah akun tergantung dari bagaimana kecerdasan kita mengenali publik serta menyikapi situasi sosial kemasyarakatan”, tambah Sasingkojati.

Sebagai penutup paparan, Sasingkojati menyampikan harapannya untuk akun TNI AU. Sasingkojati berharap akun TNI AU mampu memenuhi dahaga masyarakat akan informasi yang valid dan dari tangan pertama melalui Twitter khususnya. Semoga segala ilmu yang didapatkan melalui diskusi ini berguna dan dapat diaplikasikan pada media sosial BIG ke depannya. Sehingga informasi yang disampaikan melalui media sosial BIG dapat menjangkau masyarakat dan menjadi sarana publikasi BIG yang efektif. (HA/LR)