Badan Informasi Geospasial

Bersama Menata Indonesia yang Lebih Baik

Visualisasi Dokumen Perencanaan

 

Visualisasi Dokumen Perencanaan

Abdul Aziz Nurussadad1

 

Badan Informasi Geospasial (BIG) adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Informasi Geospasial. Dalam melaksanakan tugas tersebut, BIG didukung oleh berbagai pusat dan bidang non-teknis yang saling terkait. Salah satunya terkait perencanaan di BIG. Perencanaan ini merupakan bidang yang tidak kalah penting di BIG, terutama dalam menentukan arah kebijakan dan program instansi, dalam mendukung program pemerintah nasional. Artikel ini akan membahas salah satu bagian dari perencanaan, khususnya terkait Evaluasi dan Pelaporan. Lebih utama lagi yang mengerjakan terkait Pelaporan tentunya tidak asing lagi dengan salah satu keluaran dari Bagian Perencanaan BIG, yang dikenal dengan istilah Lampid atau Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia. Lampiran ini mendampingi dan merupakan bagian tak terpisahkan dari Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia. Pidato ini sendiri disampaikan oleh Presiden di hadapan DPR dan DPD pada tanggal 16 Agustus di setiap tahunnya. Walaupun secara resmi, tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan Pidato ini dilaksanakan. Namun, praktek ini secara terus menerus dilaksanakan, sehingga dianggap sebagai konvensi (kebiasaan) ketatanegaraan2.

Namun artikel ini tidak akan membahas secara mendetil terkait Lampiran Pidato ataupun Pidatonya itu sendiri, melainkan Visualiasinya. Mengapa ini dipandang perlu, sekarang mari kita lihat mulai Lampiran Pidato Kenegaraan3 Presiden Republik Indonesia 16 Agustus 2005 (Lampid Tahun 2005). Lampid Tahun 2005 ini terdiri dari 665 halaman. Lumayan tebal bukan? Ya, tebal karena Lampiran Pidato ini memang merupakan bagian yang dikumpulkan dari setiap Kementerian dan Lembaga yang ada di Negeri ini. BIG dalam hal ini juga mengirimkan bahan Lampid. Untuk di BIG, Unit yang memiliki tugas dan fungsi dalam menyusun Lampid adalah Sub Bagian Evaluasi dan Pelaporan di Bagian Perencanaan. Sekarang, mari kita lihat di Tabel Berikut :

Tahun

Jumlah Halaman

2005

665

2006

727

2007

710

2008

811

2009

810

2010

836

2011

844

2012

771

2013

680

2014

432

2015

654

2016

408

Tabel 1 : Jumlah Halaman di Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia

 

Dari tahun 2005 hingga tahun 2016, Lampid paling tipis adalah Lampid Tahun 2016, dengan 'hanya' 408 halaman, sementara untuk yang paling tebal adalah Lampid Tahun 2011 dengan 844 halaman.  'Lumayan' tebal kan? Apakah dengan halaman setebal itu, dokumen-dokumen tersebut bisa menjadi konsumsi publik atau hanya menjadi konsumsi elit semata? (Penulis : Untuk kami di Bagian Perencanaan, memang sudah menjadi 'kewajiban' kami untuk membaca, memahami dan mengkaji Dokumen-Dokumen kenegaraan, diantaranya Lampid ini). Setidaknya dalam survei sangat singkat yang penulis lakukan, dari 5 orang responden rekan kerja penulis di Biro Perencanaan, Kepegawaian dan Hukum (PKH) BIG, 4 orang mengaku mengetahui apa itu Lampid, dan hanya 1 orang yang mengaku pernah membaca Lampid tersebut.

Adapun visualisasi diperlukan agar publik bisa turut 'menikmati' apa isi dari Lampiran Pidato tersebut,  tanpa perlu membaca keseluruhan dari Lampid tersebut. Visualisasi ini menggunakan statistik dasar sederhana, yaitu meringkas data. Tentunya, meringkas data ini menyebabkan adanya informasi yang hilang. Informasi yang hilang akan menyebabkan terjadinya perbedaan penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan yang berbeda bisa menyebabkan perbedaan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan ini tentunya berakibat pada kebijakan yang mungkin dirasakan oleh publik. Oleh karena itu, Visualisasi ini ditujukan lebih kepada konsumsi publik. Adapun penarikan kesimpulan agar di-verifikasi dengan membaca lebih detil ke Lampid itu sendiri.

Berikut adalah proses yang dilakukan dalam melakukan Visualisasi Lampiran Pidato :

1.      Mengumpulkan Data

Visualisasi Lampiran Pidato ini dimulai dengan mengumpulkan data dari Lampid yang ada, terlalu jauh kiranya jika menggunakan Lampiran Pidato yang lengkap yang merupakan kumpulan dari seluruh K/L di Indonesia. Oleh karena itu, digunakan bahan Lampiran Pidato yang dikirimkan oleh BIG ke Bappenas. Telah terkumpul Bahan Lampid tahun 2014, tahun 2015, dan tahun 2016.

2.      Menghitung Frekuensi Kemunculan Tiap Kata

Langkah berikutnya dalam melakukan visualisasi ini adalah menghitung frekunsi kemunculan tiap kata dari keseluhan Lampid BIG. Sangat disarankan untuk tidak melakukan proses ini secara manual, karena akan sangat lama dan membosankan. Dalam mengerjakan visualisasi ini, penulis menggunakan Penghitung Frekuensi Kata dari http://www.writewords.org.uk/word_count.asp dikarenakan sangat mungkin ditemui perbedaan perhitungan, apabila menggunakan Penghitung Frekuensi Kata lainnya. Berikut adalah hasilnya :

 

NO

LAMPID 2014

LAMPID 2015

LAMPID 2016

KATA

FREKUENSI

KATA

FREKUENSI

KATA

FREKUENSI

1

dan

306

dan

218

dan

305

2

yang

120

yang

78

peta

154

3

informasi

82

informasi

78

informasi

110

4

geospasial

71

geospasial

68

yang

90

5

data

70

tahun

63

k/l

89

6

peta

68

data

60

kementerian

85

7

dengan

68

peta

55

geospasial

85

8

tahun

66

di

54

tahun

74

9

nlp

62

dengan

43

data

72

10

untuk

61

ri

38

di

71

Tabel 2 : Frekuensi kemunculan kata pada Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI dari BIG

 

3.      Menghapus Kata Hubung

Sebagaimana yang tampak pada Tabel 2, banyak kata hubung yang muncul pada penghitungan frekuensi dari Lampid, seperti kata "dan" yang muncul 306 kali di Lampid 2014, muncul 218 kali di Lampid 2015, dan muncul 305 kali di Lampid 2016, adapula kata "yang" yang muncul 120 kali di Lampid 2014, muncul 78 kali di Lampid 2015, dan muncul 90 kali di Lampid 2016. Kata hubung ini perlu dihilangkan dari Visualisasi.

4.      Memilih Jenis Visualisasi yang sesuai

Pada tahap akhir ini, yang sangat berperan penting adalah selera dari masing-masing yang membuat, namun tetap perlu diingat dalam visualisasi selain indah dipandang, adalah kemudahan dalam menyampaikan informasi. Beberapa orang ada yang memilih menggunakan Tabel Frekuensi seperti Tabel 1 dan Tabel 2 di atas. Kali ini, penulis memilih menggunakan Snellen Chart, yaitu Diagram Mata yang diciptakan oleh Herman Snellen pada 18624, yang digunakan untuk memeriksa ketajaman mata. Metode Visualisasi menggunakan Snellen Chart ini dilakukan oleh R. Luke Dubois5.

Dalam Visualisasi ini kata dengan frekuensi kemunculan lebih besar akan dimunculkan di atas dari kata dengan frekuensi kemunculan lebih kecil. Kata dengan Frekuensi yang lebih besar pada baris yang sama akan diletakkan disebelah kiri kata dengan frekuensi lebih kecil.

 

Gambar 1 : Snellen Chart

 

5.      Menyiapkan Data Sesuai Jenis Visualisasi yang dipilih

Sebagaimana yang tampak pada Gambar 1, terdapat 11 baris dalam Snellen Chart ini. Satu huruf untuk baris 1, dua huruf untuk baris 2, tiga huruf untuk baris 3, dan sampai sebelas huruf pada baris 11, dengan total 66 huruf. Ketika melakukan Visualisasi Lampid pada Snellen Chart, sebagai basis analisis adalah kata, sehingga diperlukan 66 kata.

6.      Menyiapkan Visualisasi

Dalam menyiapkan Visualisasi menggunakan Snellen Chart, ada beberapa aturan yaitu :

a.       Menggunakan Jenis Huruf Courier New

b.      Menggunakan Ukuran Huruf (font size) sebagai berikut :

 

BARIS
ke-

Ukuran huruf

1

152

2

130

3

108

4

87

5

65

6

43

7

33

8

21

9

15

10

9

 

 

Untuk baris ke-11, saya menggunakan ukuran huruf 7.

 

Sehingga pada akhirnya di dapat hasil sebagai berikut :

Gambar 2 :  Snellen Chart Lampid 2014

Gambar 3 :  Snellen Chart Lampid 2015

Gambar 4 :  Snellen Chart Lampid 2016

 

Untuk memudahkan membaca dan menyimpulkan isinya, kata-kata yang sama pada diagram yang berbeda diberikan warna yang sama. Namun pada akhirnya, silahkan gunakan kreativitas dan imaginasi masing-masing untuk menikmatinya. Jika ada keraguan, silahkan cek ke Bahan Lampiran Pidato yang BIG kirimkan ke Bappenas3. Contohnya salah satu rekan di Biro PKH BIG, Ali Nurmoko ketika ditunjukkan Grafik ini mengambil kesimpulan sebagai berikut, "BIG, pada tahun 2014 dan 2015 lebih fokus pada data dan informasi geospasial ya, jika dibandingkan 2016 lebih banyak ke Peta (kebijakan satu peta) dan kerjasama dengan K/L (Kementerian lain)".

Ada satu lagi manfaat dari Visualisasi Lampid, yaitu setidaknya membuat pembaca penasaran apa isi lengkap dari Lampid ini. Semoga.

 

 

  1. Penulis : Statistisi Pertama di BIG, Staf Sub Bagian Perencanaan Program dan Anggaran, Bagian Perencanaan.
  2. http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt520e344521b57/pidato-16-agustus--konvensi-ketatanegaraan-warisan-orba di akses tanggal 2 November 2016
  3. http://bappenas.go.id/id/data-dan-informasi-utama/publikasi/lampiran-pidato-kenegaraan-presiden-ri/ di akses tanggal 2 November 2016
  4. H. Snellen, Probebuchstaben zur Bestimmung der Sehschärfe, Utrecht 1862
  5. http://hindsightisalways2020.net/ di akses tanggal 2 November 2016

 


 Terakhir,  berikut Penulis tampilkan WordCloud dari Artikel ini.